Happiness is like glass. It may be all around you, yet be invisible.
But if you change your angle of viewing a little, then it will reflect light more beautifully than any other object around you

(Lelouch Vi Brittania)

Sabtu, Mei 17, 2014

[Review Novel] Ai no Kiseki : karena tak selamanya keajaiban berpihak padamu (Risma Ridha)

Hello! Saya lagi demen nih nge-review buku. Padahal nulis aja belom tembus media, udah ngomenin karya orang aja :p Kali ini saya akan membahas sebuah novel yang saya selesaikan sehari yang lalu. Judulnya Ai no Kiseki. So, let's start the party!


Judul : Ai No Kiseki
Kode : 9786022555179
Oleh : Risma Ridha
Harga : Rp. 42000
Ukuran : 13 x 19 cm
Tebal : 311 hlm
Terbit : April 2014
Penerbit : Senja

Sekilas tentang isi buku
Ara terpaku mendengar setiap kejujuran yang terucap dari bibir Hiro. Pemuda itu telah berkorban banyak untuknya. Dan setelah sekian lama menunggu, keajaiban itu akhirnya kembali. Penantian yang tulus, tak akan pernah sia-sia. Ia mengambil omamori dalam sakunya, kemudian menyerahkannya pada Hiro.
“Kau menepati janjimu. Mengambil kembali omamori ini di waktu yang tepat. Untung aku belum membukanya. Kalau tidak, pasti harapan yang kau tulis tidak akan pernah terkabul.”
“Aku berdoa agar kita dipertemukan kembali di waktu yang tepat. Hari ini, tepat setahun aku memberikan omamori itu padamu, kan? Kami-sama mendengar permohonanku.”
“Jika kau sedang terjebak dalam situasi yang sulit, pejamkan matamu. Buka memorimu dengan berjuta kenangan indah yang pernnah kau alami. Dan carilah keajaiban.”

Itu adalah sinopsis yang tertera di belakang bukunya. Kalau cerita ringkasnya seperti ini :
Arisa Arakida, gadis berkerudung yang pemberani, keras kepala, dan sedikit egois. Ia nekad pergi ke Jepang dengan modal uang tabungannya bersama kedua sahabat baru yang ia temui di internet, Serly dan Rika. Sayangnya, Ara tertipu dengan kedua sahabat yang mengaku pernah pergi ke Jepang namun nyatanya belum sama sekali. Alhasil, Ara menemui banyak petualangan baru yang mengejutkan di Jepang sana.
Mulai dari bertemu dengan cowok jutek di stasiun, menjadi cosplayer gadungan, merusakkan biola orang, menjadi violinis pengganti, sampai mengikuti audisi musik menjadi anggota AYO (Association Youth Orchestra). Pertemuannya dengan cowok dingin bernama Akihiro Kiseki membawanya dalam lika-liku kehidupan di Kota Namba, serta tentunya lika-liku persasaanya. Apalagi Ara merasakan chemistry yang aneh pada seorang pemuda Jepang bernama Jirou. Ditambah lagi, mantan pacarnya, Yoga, menyusulnya ke Jepang hanya untuk menyeretnya pulang.
Jadi, akankah Ara bisa kembali ke Indonesia dengan selamat? Bagaimanakah Ara menjalani hidupnya selama di Jepang? Siapakah yang menjadi tambatan terakhir hati Ara? Hiro atau Jirou atau malah kembali ke Yoga?
Temukan jawabannya di buku Ai No Kiseki :) yonde kudasai minna-san!!!

Kelebihan dari novel ini adalah setting tempat yang luar biasa penjabarannya. Penulis mengaku belum pernah ke Jepang namun pendeskripsiannya akan latar tempat yang di ambil sangat jelas sampai pembaca bisa membayangkan berada di negeri Sakura itu. Kuatnya karakter Ara juga bikin gregetan saya sebagai pembaca, khas anak muda. Selain itu karakter utamanya juga konsisten dari awal sampai akhir. Seperti Ara yang meledak-ledak dan Hiro yang digambarkan sebagai pemuda dingin walaupun hatinya selembut permen kapas. Alurnya juga rapi dan konfliknya tergambarkan cukup seru untuk genre teenlit seperti ini. Kalimatnya lincah dan dinamis. Penulis juga menggambarkan dunia musik dengan jelas dan mudah dimengerti bahkan oleh orang yang awam akan musik sekalipun (seperti saya). Pengetahuan penulis dan riset yang dilakukannya cukup untuk mendorong cerita menjadi lebih hidup. Thumbs up!

Kekurangan dari novel ini tidak banyak saya sebutkan. Misalnya saja ada beberapa dialog yang tidak diawali dengan tanda petik, maupun kesalahan kecil lainnya. Namun setidaknya saya tak menemukan typo di dalamnya (atau saya melewatkannya?). Ada juga beberapa plothole yang kalau diamati benar-benar mencolok. Lalu penulis juga seakan tergesa dalam setiap loncatan adegan dan juga ada tokoh yang muncul tiba-tiba tanpa alasan yang kuat. Seperti adik dari Hiro yang muncul di akhir sebagai penyelesai konflik, seakan ia diciptakan hanya untuk melengkapi bagian cerita yang kosong, bukan diciptakan dari awal sebagai bagian dari cerita. Dan tokoh tempelan lainnya.

Itu pembahasan singkat saya mengenai novel Ai no Kiseki ini. Sebenarnya tema yang diangkat sangat umum dan sedikit klise. Pastinya pembaca akan bisa menebak akhir dari cerita seperti ini setelah membaca dua bab pertama. Hanya saja Risma berhasil mengolah proses menuju endingnya dengan cukup ciamik sehingga mendorong pembaca untuk segera menyelesaikan bukunya.
Jujur, saya bukan pecinta buku teenlit yang berkisah manis seperti ini. Namun saya menyukai gaya berceritanya yang mengalir dan lincah, serta karakter dan setting tempatnya tentu saja. Walaupun diksinya belum begitu beragam, untuk kalangan teenlit novel ini sudah cukup menggiurkan untuk dibaca. Apa jadinya kalau novel yang ditujukan pada pembaca remaja malah berdiksi yang berat dan akhirnya tak berhasil menyampaikan pesan dari penulis? Aneh bukan?

Jadi, saya akan memberi empat bintang dari lima untuk genre teenlit dan tiga bintang dari lima untuk bacaan penyuka genre adult dan young adult seperti saya :)

Kamis, April 10, 2014

[Review Novel] Yummy Tummy Marriage : Because every ending is a new beginning

Judulnya pasti bikin galau cewek-cewek yang melebihi kepala dua atau jombloers duluar sana. Iya, buku ini mengisahkan tentang tiga puluh hari pertama setelah menikah. Saya kebetulan mendapat buku ini karena hadiah menulis #CERMIN dari Bentang Pustaka. Kalau tidak, mungkin saya-- yang merupakan penggemar misteri dan thriller-- tak akan membaca kisah ini, bahkan nggak kepikiran beli bukunya. Saya sudah berniat membaca ini terakhir tapi karena pikiran sedang suntuk baca yang berat, jadi saya iseng buka ini. Alhasil, saya ketagihan baca sampai selesai dalam satu hari satu malam :)



Penulis: Nurilla Iryani
Penyunting: Noni Rosliyani
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman : 270 halaman
Terbit : Februari 2014
ISBN: 978-602-291-009-1
Harga: Rp 48.000,-

Cerita yang dikisahkan melalui dua POV suami istri-- Bara dan Gina-- ini bisa dibilang kocak dan seru. Bara Wiryawan, seorang laki-laki workaholic yang bekerja pada IT consultant di Jakarta menikahi Gina Anjani, seorang shoppaholic yang cinta kebersihan. Tiga tahun pacaran tak membuat Bara mengenal Gina sepenuhnya. Begitu pula dengan Gina, tiga tahun mengenal Bara ternyata definisi perfect pada lelaki itu berubah drastis setelah menikah.
Masalah rumah tangga mulai muncul ketika tagihan kartu kredit Gina membengkak dan Bara, yang pada dasarnya perhitungan masalah keuangan, terlibat cekcok dengan istrinya. Masalah semakin parah dengan Gina yang mengetahui kalau salah satu klien Bara adalah mantannya jaman SMA, Elisa. Gina cemburu buta sedangkan Bara menganggapnya sebagai profesionalisme saja dalam bekerja. Gina benci sekali kalau Bara pulang terlalu malam dan menjawab telepon klien setelah jam kerja usai, padahal pekerjaan Bara menuntutnya untuk selalu siap menomorsatukan klien.
Pertengkaran-pertengkaran pasangan baru ini menghiasi tiga puluh hari pertama mereka hidup berdua. Mulai dari kebiasaan Bara yang suka kentut kalau masuk angin dan tidur seharian, sampai kebiasaan Gina yang kalap belanja kalau sedang tertekan.
Akankah mereka bertahan sampai lebih dari tiga puluh hari yang melelahkan itu?


Kekurangan dari novel ini adalah diksi-nya yang terlalu ringan dan kosakatanya terlalu umum. Tidak terlalu menarik untuk pecinta novel. Novel ini menggunakan POV dari kedua tokoh utama, Bara dan Gina, yang terkesan seperti curhat bukan bercerita. Selain itu setting tidak begitu ditonjolkan, seperti di daerah mana apartemen mereka, kantor mereka, dan rumah Bara di Surabaya. Begitu Dufan di sebut sebagai tempat honeymoon, penggambarannya tidak begitu detail karena penulis fokus pada cerita masing-masing tokoh.
Karakter masing-masing kuat, hanya saja agak rancu dibagian Gina. Diceritakan Gina jarang memasak dan awalnya masakan dia kurang pas di lidah Bara. Namun setiap masakan di hari brikutnya yang disajikan Gina, semakin rumit resepnya. Ini aneh, memang istri harus bisa belajar masak untuk suami, namun Gina bukan perempuan yang pintar masak. logikanya dia tidak akan secepat itu mempelajari cara memasak, apalaagi sebagian besar masakan yang dibuat Gina adalah western dish.

Kelebihan novel ini adalah bahasanya yang ringan dan ide ceritanya yang menarik. Selama ini kebanyakan novel tentang marriage adalah tentang perjodohan, konflik dengan orang ketiga setelah menikah, atau perselingkuhan. Namun di buku ini, penulis malah menggambarkan satu bulan penyesuaian kedua tokoh pada kehidupan baru setelah menikah. Lika-liku yang dialami oleh pasangan baru seperti Bara dan Gina, yang kadang luput dari perhatian karena kita terlalu fokus pada cerita yang memanjakan pembaca dengan endingnya.
Seperti judulnya, novel ini menyajikan resep yang dibuat Gina untuk Bara. Lengkap dengan bahan dan cara membuatnya. Itu kenapa judulnya diberi nama Yummy Tummy :) Sedikit seru dan unik dalam penyajian novel ini. Bahasa masing-masing POV yang lugas dan kocak melebihi kocaknya buku komedi sekalipun. Apalagi penggunaan kata 'gue' dalam POV Bara dan kata 'aku' dalam POV Gina yang menarik pembaca serta pemikiran mereka terhadap pasangannya yang kadang bertolak belakang satu sama lain.


Secara keseluruhan saya menikmati membaca novel ini. Seru dan bikin ngakak. Empat jempol untuk Nurilla yang berhasil mengemas curhatan pasangan pengantin baru ini dalam balutan novel romantis nan kocak. Saya pasti akan menonton cerita ini apabila difilmkan nantinya. Rasanya pasti seru melihat kedua sisi orang yang berbeda namun berusaha bersatu itu.
Sebagai perempuan (yang biasanya suka pembunuhan dan benci kisah cinta menye) saya jatuh cinta pada karakter Bara. He's adorable yet charming! :)

[Review Novel] Matryoshka : Kapan kau akan kembali, Yulya?

Pertama-tama, saya mendapatkan pinjaman novel ini dari kawan saya sesama penulis. Bedanya dia penulis yang sudah menelurkan karya sedangkan saya masih pemula haha
Saya sedang mengikuti tantangan dari salah satu penerbit dan kebetulan buntu kalau masalah setting luar negeri apalagi kisah Romantik Inspiratif, jadilah saya menghabiskan buku ini dalam satu hari satu malam saja :)

Ringan namun menggugah hati







Judul : Matryoshka
Penulis : Ghyna Amanda Putri
Penerbit : de TEENS
Terbit : Desember 2013
Tebal : 332 halaman

Harga : Rp. 44000
Ukuran : 13 x 19 cm
ISBN : 978-602-255-414-1


Matryoshka mengisahkan tentang kisah cinta dua muda-mudi yang terpisah oleh jarak. Adalah Virgo, pemuda asal Indonesia yang mengambil kuliah jurusan seni murni. Ia bertemu dengan seorang gadis asal Rusia bernama Yulya Bolotova yang belajar sastra Indonesia dan lebih tua darinya 3 tahun. Perdebatan masalah karya seni Malevich membuat mereka semakiin dekat dan akhirnya menjalin kasih. Semua berjalan baik-baik saja sampai Yulya menghilang dan kembali ke negaranya tanpa Virgo ketahui.
Tujuh tahun berikutnya Virgo mendapat sepucuk surat dan kotak berisi dua boneka Martyoshka dari Yulya. Yulya meminta Virgo datang ke Rusia, ke St. Petersburgh lebih tepatnya pada tanggal 7 Agustus, hari ulang tahun mereka berdua. Berbekal keinginan kuat menemui Yulya yang tak pernah bisa dilupakannya, Virgo berangkat menuju Peter. Namun, ia tak menemui Yulya disana, hanya seorang gadis Rusia berumur tujuh tahun yang tak bisa berbahasa Rusia. Gadis kecil bernama Yulenka itu hanya bisa berbahasa Indonesia. Yulenka bilang Virgo harus ikut dengannya karena Yulya memintanya untuk menjemput Virgo. Virgo menurut namun ia kembali kecewa ketika surat Yulya berikutnya mengatakan aktivitas apa yang harus ia lakukan selama beberapa hari ke depan bersama Yulenka.
Virgo merasa dipermainkan, selama beberapa hari ia harus tinggal bersama Yulenka yang setiap pagi membacakan surat dari Yulya untuknya. Perdebatan hati Virgo mencapai batas, ia mengorek informasi dibantu oleh kawan Yulya, Katarina. Sampailah Virgo kepada fakta yang mengejutkan yang disembunyikan Yulya selama ini. Lalu siapakah Yulenka sebenarnya? Kemanakah Yulya pergi?

Mau tahu kelanjutannya? Silahkan membaca bukunya :)
Sekarang saya akan membahas bagian yang menguatkan dan bagian yang rada aneh buat saya :) 

Pertama kita mulai dengan bagian yang rada aneh menurut saya :
Di awal saya membaca sebuah surat yang saya tidak tahu untuk siapa. Sampai disini saya merasa 'ah ini cerita biasa banget, dibuka pake surat udah biasa dipake'. Lalu saya meneruskan membaca, berharap ada yang menarik. Baru lewat halaman 50 saya baru merasa akan menghabiskan cerita ini. Entah karena saya yang terbiasa membaca cerita rumit diawal atau bagaimana, yang jelas menurut saya penulis ini belum mengesankan kerumitan cerita di awal.
Beberapa halaman awal malah kilas balik dari sudut pandang Virgo yang terkesan seperti curhat. Lalu menurut saya penggambaran Virgo di sini kurang jantan. Maksudnya dengan kebiasaan dia merokok, minum bir, dan pergaulan bebas, cara Virgo bertutur dan berpikir tak melambangkan karakternya yang buruk. Malahan seperti pemuda yang memiliki perangai yang baik dan melankolis.

Lalu untuk bagian menariknya, saya menemukan banyak sekali dalam cerita ini (tentunya setelah lewat halaman 50)
Karakter Yulya dan Yulenka di sini sangat menarik. Kuat dan membekas di ingatan pembaca. Yulenka adalah gadis yang cerdas dan mandiri, sekaligus polos. Yang menarik adalah bagaimana Ghyna membuat gadis Rusia kecil ini tak bisa berbahasa Rusia, namun lancar berbahasa Indonesia. Ini sangat unik. Terciptanya karakter Yulenka, juga memperkuat karakter Yulya. Yulya digambarkan sebagai sosok yang mandiri dan berpikiran positif serta sedikit egois.
Lalu sedikit unsur misteri yang terselip saat Yulenka membaca surat Yulya untuk Virgo tiap pagi, membuat pembaca jadi sedikit menebak-nebak, kemana sebenarnya Yulya ini. Misteri di flat tempat tinggal Yulenka serta latar belakang gadis itu juga memancing rasa penasaran.
terlebih lagi, Ghyna berhasil mendeskripsikan setting dengan cukup baik walaupun kadang ia sempat terlihat lost ketika menggambarkan suatu tempat di Rusia. Dan yang terakhir adalah reaksi ibu Virgo ketika mengetahui putranya membawa pulang gadis Rusia, Yulenka. Normalnya, ibu Virgo pasti akan menolak mentah-mentah putranya membawa pulang gadis asing, namun ia malah dengan senang hati menerima Yulenka. Ini aneh, bagaimanapun juga. Walaupun akhirnya Yulenka diterima di keluarga Virgo, tapi itu butuh proses. Apalagi Yulenka bukan warga negara Indonesia.

Pesan moral di cerita ini bagus banget. Terutama Yulya yang mengajari Virgo makan hidup sebenarnya. Yulya membuat Virgo berteman dengan seorang gadis kecil yang merubah hidupnya tanpa menyebutkan status gadis itu. Kepolosan dan kecerdasan Yulenka pun bisa dijadikan contoh bagi anak-anak Indonesia (terlepas dari ketidaktahuannya akan keluarga dan sekolah)
Bagaimana Yulya menyampaikan makna keluarga kepadaVirgo melalui boneka Martyoshka model baru. Boneka Martyoshka buatan Yulya bukan hanya terdiri dari ibu dan anak-anaknya, namun satu boneka yang lebih besar melambangkan ayah yang melindungi ibu dan anak-anaknya.
 
Secara utuh novel ini bagus dan ringan dibaca, serta kaya akan pesan moral. Namun menurut saya, Ghyna perlu membuat sepuluh halaman awal lebih menarik lagi. Saya suka dan bagi saya Ghyna berhasil menjabarkan negara yang bahkan ia sendiri belum kesana. Itu saja :)

Senin, Maret 24, 2014

[Review Novel] Tell Your Father, I am Moeslem : Ketika Hati Harus Melawan Logika


Assalamualaikum wr.wb
Tumben kan saya ucap salam sebelum ngeblog? iya tumben banget tapi ini bukan karena judul diatas. Ini karena saya lagi inshaf :p

Langsung saja ya ke pembuka postingan. Jadi ini adalah review novel pertama yang saya buat. Saya tak pernah membuat review novel sekalipun novel favorit seperti novel-novel karya mister Brahmanto Aninditho. Sejujurnya ini adalah membayar janji saya mereview novel milik seorang lelaki bernama Hengki Kumayandi yang bahkan saya sendiri belum pernah bertemu dengannya. Jadi mister Hengki ini adalah founder dari grup menulis online di FB tempat saya bergabung. Kebetulan bulan Februari lalu beliau menelurkan satu karyanya dalam bentuk cetakan yang dikomersilkan *halah* hahaha


Judul Buku          : Tell Your Father, I am Moslem 
Penulis                 : Hengki Kumayandi
Penerbit               : Wahyu Qolbu
Tanggal Terbit     : Februari 2014
Halaman              : 259 halaman
Bahasa                 : Bahasa Indonesia
Harga                   : Rp. 47.000 

CINTA ATAS NAMA TUHAN

 Ketika cinta pada pandangan pertama berkata. Ketika Tuhan mempertemukan kedua insan yang jauh berbeda dalam suatu momen. Ketika keyakinan dan prinsip menjadi sebuah hal tak terelakkan yang bertolak belakang dengan cinta. Dan ketika orang lain memiliki andil yang besar dalam menentukan cinta dua sejoli dimabuk asmara.
David dan Maryam. Penganut sejati keyakinan mereka masing-masing. Putra seorang pastur dan putri seorang duta besar Uni Emirat Arab. Kedua remaja ini bertemu di sekolah dan saling jatuh hati pada pandangan pertama. Sengaja melewatkan bus maupun sengaja menyandarkan sepedanya di halte adalah cara David dan Maryam untuk saling memandang lebih lama satu sama lain. Perasaan kedua remaja ini semakin mengakar di hati mereka sampai David memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Gayung bersambut, Maryam menerimanya dengan satu syarat : David tak boleh menyentuhnya. Bukan masalah bagi David.
David sudah sangat gembira hanya dengan memandang Maryam di kelas, hanya dengan mengantarnya ke halte dan memboncengnya naik sepeda. Namun kisah cinta kedua remaja ini menemui tantangan terberat. Sang Pastur dan sang Duta Besar tak pernah merestui hubungan mereka. Sifat keras kepala Maryam akhirnya membuat sang Ayah menjodohkannya dengan Khaled, pemuda Dubai yang shaleh.
Jatuh bangun David dan Maryam untuk mempertahankan hubungan mereka sempat kandas berkali-kali. Berhenti di tengah jalan, kemudian kembali berjalan, kemudian berhenti lagi. Sampai keduanya jatuh sakit dan sekarat karena psikisnya bobrok. Mereka tak kuasa menahan sakitnya cinta yang mereka pilih. Cinta yang tak direstui orang-orang terkasih mereka.
Sampai suatu titik, David memutuskan untuk melupakan Maryam. Begitu juga Maryam, ia kembali ke Dubai untuk memulai hidup barunya dengan Khaled. Namun apakah Khaled tetap mencintai dan mempertahankan Maryam, istrinya, yang tak pernah memandang laki-laki lain selain David? Apakah David sudah benar-benar melupakan Maryam? Apakah dengan terkuaknya orang tua kandung David yang ternyata adalah muslim, membuat David berharap lagi untuk memiliki Maryam? Apakah Maryam akan kembali bertemu dengan cinta pertamanya? Akankah kisah cinta yang menggebu-gebu itu dapat mengalahkan cinta mereka pada Tuhan?
****
Oke ini adalah sekilas isi buku menurut pandangan umum saya. Sekarang saya akan membahasnya dalam dua sudut pandang, kelebihan dan kelemahannya.

Kelebihan 
Novel ini sangat menginspirasi. Semua orang pasti bilang begitu. Karena memang ini bukan novelmengenai kisah cinta remaja yang sekarang semakin jauh dari akidah yang ada. Novel ini menceritakan cinta yang terlihat tidak mungkin namun ternyata berhasil pada akhirnya. Cerita David dan Maryam membuktikan bahwa jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin. Kebetulan di dunia ini tidak ada, yang ada adalah jalan yang sudah diatur oleh Allah SWT
Gaya berceritanya seru, seperti menonton film atau sebut saja filmis. Temponya lumayan cepat sebagai sebuah novel roman. Karena biasanya saya membaca cerita dengan tempo yang sama adalah pada genre misteri dan suspense. Bahasanya ringan dan mudah dipahami. Sangat disarankan untuk para remaja saat ini agar dapat mengambil nilai-nilai agama di dalam novel ini
Novel ini sama sekali tidak mengandung SARA. Novel ini melihat dari dua sudut pandang agama yang berbeda. Novel ini membuka mata hati kita agar tetap menghormati agama lainnya, menghormati sesama manusia. Seperti David yang menghormati keyakinan Maryam untuk tidak menyentuhnya.
Tapi untuk keseluruhan, cerita ini membuat saya ketagihan untuk terus menghabiskannya. Saya hanya butuh satu hari untuk menyelesaikannya.

Kekurangan
Tanpa mengurangi rasa hormat pada penulis dan tim editor, novel ini memiliki kesalahan EYD yang cukup fatal. Seperti tidak adanya tanda petik di awal dialog, elipsis, pemenggalan huruf di ujung baris yang kurang tepat, dan tidak adanya pembeda antara narasi dan percakapan batin.

Bagi penulis yang sudah menelurkan karya cetak, semua itu pasti terlihat jelas karena saya sebagai penulis pemula saja bisa menemukan banyak kesalahan disana. Kata-kata berbahasa asing juga tidak di-italic. Ini sedikit mengecewakan mengingat penulis adalah orang yang sudah menelurkan cerpen di berbagai media cetak tanpa adanya kesalahan kecil seperti itu. Jadi selama membaca cerita saya sering mengerutkan dahi melihat kesalahan EYD seperti tanda baca dan lainnya. Ini jadi mengurangi nikmat dalam membaca, bukan?

Melihat cover-nya saya sudah berharap akan setting yang menakjubkan. Setting memang di washington DC dan Dubai, namun tak disebutkan detilnya. Seperti sekolah David dan Maryam, halte tempat mereka sering menunggu tak beralamat. Setting yang diambil sudah cukup menarik, namun detil yang memperkuatnya sama sekali tak ada, sedikit membuat kecewa padahal di cover sudah ada capitol hall yang megah dan indah.

Tentang karakterisasi, penulis sudah berhasil menunjukkan karakter yang kuat untuk kedua tokoh utama. Hanya saja saya sempat menemukan ketidaksesuaian karakter Maryam di sebuah scene dengan karakternya sebelum scene itu. Namun itu dapat diabaikan untuk benar-benar menikmati cerita ini. Kemudian satu hal yang mengganggu saya, tentang bagaimana Anggel, Jardon, dan Khaled begitu mudah melupakan rasa cinta mereka pada pujaan hatinya. Ini terlalu mudah, sedikit tidak masuk akal. Normalnya mereka akan menunjukkan ketidaksukaan mereka pada saingan mereka, namun disini semua tokoh terlalu protagonis. Hanya ayah Maryam yang tampak sangat kejam, antagonis utama

Saya juga tak begitu paham mengapa penulis menuliskan tentang kisah cinta segi banyak antara David, Anggel, dan Jardon dalam narasi sekilas yang kurang penting. Kalau tak mendukung kemajuan cerita tampaknya kisah itu *menurut saya* tak perlu disebutkan dalam naraasi. Lagi-lagi ini terserah penerbit dan penulis. Saya hanya memberi pendapat sebagai pembaca karya Hengki ini. Oh ya, satu yang mengganjal saya selama membaca novel ini adalah ketika David dan Maryam jatuh sakit, adegan seperti diulang-ulang dan tertahan disana. David dan Maryam seolah-olah hanya berulang-ulang bertemu dalam alam bawah sadar dan mengalami dilema. 

Demikian sedikit review atas novel Tell Your Father, I am Moeslem karya Hengki Kumayandi. Sebuah cerita yang sangat disarankan terutama untuk remaja jaman sekarang. Tak perlu memusingkan hal kecil seperti yang saya sebutkan diatas untuk menikmati cerita ini. Inti cerita ini sendiri menghibur sekaligus memberi pelajaran yang berarti.
Saya teringat pada diri saya sendiri karena cinta pertama saya juga memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya. Sampai jumpa di review novel selanjutnya ya ^^

Minggu, Februari 09, 2014

Daisy (sebuah cerpen)



Aku menutup buku biologi dengan helaan napas yang cukup keras. Mengantuk. Aku menunggu sampai kelas agak sepi baru bergegas pulang. Malas rasanya pulang ke rumah. Mama dan Papa mungkin pulang larut dan selalu berangkat pagi-pagi. Kakak juga lebih sering menginap di kos-kosan temannya daripada di rumah. Rumah kosong. Hanya Bi Sita yang tinggal di rumah. Kadang aku kasihan melihat Bi Sita yang selalu menunggu rumah sendiri ketika aku sekolah. Tapi bagaimana lagi, semua keluargaku orang sibuk.
Di koridor, aku melihat siluet yang tak asing. Lily. Aku kenal dengannya ketika mengikuti seminar tapi aku tak akrab dengannya. Sebenarnya dia cukup terkenal di sekolah. Selain cantik, dia aktif ikut OSIS. Cowok-cowok di sekolah sebagian besar mengidolakannya. Tapi, entah hanya aku yang merasa atau apa, senyumnya selalu dipaksakan dan sedih.
“Lily?” aku menyapanya. Lily kaget, menoleh, dan tersenyum.
“Oh, Tito ya?” jawabnya. Aku meliriknya. Dia membawa tas punggung juga tas tenteng dengan badannya yang mungil itu.
“Baru pulang juga? Sini gue bantuin bawain tas lo.” tawarku. Lily menggeleng, “Nggak deh, makasih.” Tolaknya halus. “Oke. Gue anter lo pulang aja deh. Kayaknya berat banget. Mumpung lagi senggang nih.” Tawarku lagi.
Lily menggeleng lagi. “Nggak usah, To. Gue juga nggak langsung pulang kok. Mau part time.” Jawab Lily.
Aku terkejut. “Part time? Dimana?” aku buru-buru meralat, “Maksudnya tempatnya.”
“Di ‘Blossom’. Toko bunga.” Jawabnya pendek. “Gue anter deh. Please!” kataku agak memaksa. Lily menatapku dengan alis terangkat, “Ya udah. Terserah lo deh.”
Sesampainya di ‘Blossom’, aku benar-benar kaget dibuatnya. Ternyata ada toko bunga yang keren di blok itu. Aku tak pernah menyadari adanya toko ini. Di toko itu berbagai macam bunga tertata rapi dan seolah-olah merumpun sendiri dengan indahnya. Aku mendekati rumpun bunga daisy yang putih bersih. Cantik sekali.
“Bisa saya bantu?” tanya si penjaga toko.
Aku jadi salah tingkah karena ketahuan melamun. “Ah, saya minta satu buket bunga ini.” kataku spontan. Aku sendiri kaget karena aku ini orang yang nggak mau repot, kok malah repot-repot membeli bunga. Siapa yang mau merawatnya nanti? Aduh! Tapi si penjaga toko sudah membuatkan satu buket untukku. Dan tanpa pamit pada Lily, aku pulang.
Aku sampai di rumah menjelang sore. Tak disangka-sangka kakakku pulang hari ini. Dia kaget melihatku membawa buket bunga daisy. Aku tak peduli apa komentarnya, bunga itu kutaruh di atas meja belajar. Rasanya bunga itu malah membuat perasaanku menjadi aneh.
♣♣♣♣
Pagi itu, hari-hariku yang biasa tenang, agak sedikit ramai. Bisikan-bisikan di belakangku jelas sekali kudengar. Itu semua karena Lily mendatangiku di kelas.
“Ada apa ya?” tanyaku polos.
Lily memasang wajah gelisah. “Anu... kemarin... lo beli bunga daisy kan? Buat apa?” tanya Lily agak ragu. Aku mengerutkan alis. Agak tidak suka dia menanyakan alasanku membeli yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu.
“Kayaknya bagus, jadi gue beli aja. Kenapa?” kataku menatapnya tajam.
Wajah Lily menunjukkan kelegaan tak kentara. “Bener?” Aku mengangguk mantap. “Ya sudah. Sorry ganggu lo. Bye.” Katanya sambil melenggang pergi.
Hah? Udah begitu aja? Aku malah jadi penasaran. Kenapa Lily begitu takut dan cemas ketika aku membeli bunga daisy? Belum sempat aku memikirkan kemungkinannya, suara berisik yang sangat menyebalkan hampir meledakkan telingaku.
“Tito!” teriak Eriel, “Lo kok diem-diem ngedeketin Lily! Tuh, para cowok cemburu buta! Hati-hati bisa dihajar mereka lo!” bisiknya heboh.
“Lo juga iri kan?” godaku. Eriel merengut. “Oke, oke. Gue nggak ada hubungan apa-apa kok. Gue harap nggak bakal ada sih.” gumamku.
“Ngomong-ngomong, lo nyadar nggak Lily itu pasang senyum palsu?” tanyaku spontan teringat kejadian tadi. Entahlah, tiba-tiba terlintas saja di pikiran.
Eriel mengangkat bahu, “Nggak tuh. Senyumnya itu surga dunia bagi para cowok Bro!” balasnya konyol. Aku jadi dongkol. Eriel mengoceh terus-terusan namun pikiranku sudah terpaku pada sesuatu. Sesuatu yang ingin segera kupastikan.
Cuaca siang itu panasnya minta ampun. Aku nyesel nggak bawa motor tadi. Tapi rasa penasaranku mengalahkan rasa gerah itu. Aku bertekad mengetahui rahasia Lily. Jadi aku mengikutinya sepulang sekolah. Beruntung hari ini dia nggak ada kegiatan OSIS dan nggak part time. Dan disinilah aku. Menyusuri gang sempit 500 meter di belakang Lily.
Aku agak kaget ketika melihat kemana Lily mengakhiri perjalanannya. Dia masuk ke sebuah rumah yang sudah tua tapi bersih itu. Nggak besar sih, tapi nyaman. Aku mengendap-endap ke salah satu jendela. Kamar? Tunggu, ada seseorang sedang duduk di kursi di depan televisi. Lily menyapanya. Aku tak bisa mendengar siapa nama orang itu karena terlalu jauh.
Seorang perempuan setengah baya masuk, Lily mencium tangan perempuan itu dan pergi keluar. Sepuluh menit kemudian dia masuk lagi setelah berganti baju. Lily bercerita banyak sekali dan wajahnya itu membuatku kesal. Dia tersenyum dan bukan senyum palsu. Kenapa ia tak pernah tersenyum seperti itu di sekolah? Kenapa harus pura-pura? Aku melangkah pulang dengan tekad akan membuat Lily mengaku besok pagi.
♣♣♣♣
“Lily, gue mau ngomong sama lo! Empat mata!” tegasku sepulang sekolah. Aku tahu sikapku mendatangi Lily sudah dipelototi para cowok. Ah masa bodoh!
“Oh nggak masalah.” Katanya enteng. Aku mengajak Lily ke dekat lapangan basket. Semua cewek ngelirik ke aku. Pasti mereka pikir aku mau nembak Lily. Malah aku lebih punya masalah yang lebih menarik dibanding meminta gadis ini jadi kekasihku.
“Ly, gue pengen lo jujur. Kenapa pasang senyum palsu sama gue dan yang lain?” tanyaku tajam. Lily kaget mendengarnya. Senyumnya sedikit memudar tapi tidak hilang.
“Maksud lo?” tanyanya sok polos.
Aku malah muak. “Udah deh. Ini udah mulai sepi, lo ngomong jujur aja sama gue. Gue heran lo cuma bisa senyum beneran pas sama dia.!” Tegasku.
Lily tambah kaget, senyumnya hilang, “Dia?”
Gue menatap dia tajam. “Iya. Dia yang di rumah lo itu.”
Lily berubah marah, “Lo ngikutin gue ya!” teriaknya.
“Ya dan gue tahu semuanya!” memang kejam kedengarannya tapi aku nggak menyesal. Ini demi sebuah kebenaran.
Lily menahan amarah, “Kenapa?” Aku menggeleng, “Udah lama gue penasaran sama sikap lo Lily. Gue nggak tahu lo ada masalah apa, tapi lo nyadar nggak kalo lo tuh menyebalkan banget!” teriakku kesal. Tumpah ruah aku meneriaki Lily. Semua perasaan kesalku kutumpahkan ke Lily. Lega rasanya tapi sedikit merasa bersalah juga.
“Gue... gue...” Lily terbata-bata, bulir-bulir air matanya jatuh ke tanah. Aku memandangnya kesal, kasihan, marah dan juga sedih sekaligus. Bingung. Lily menangis dalam diam sambil menundukkan kepalanya. Tapi ini lebih baik. Lebih baik dia menangis.
“Hei. Tuh bisa jujur sama diri lo. Sekali-kali lo butuh nangis juga kan?” hiburku. Aku sudah nggak bisa marah-marah lagi sama Lily. Hampir setengah jam Lily habiskan di sebelahku untuk menangis. Aku pun sudah menghabiskan dua botol coca cola.
“Maaf ya Tito... Gue udah ngebohongin lo...” kata Lily pada akhirnya, masih disela tangisnya.
Aku menggeleng, “Nggak apa, yang penting lo udah jujur. Dan sorry gue tadi ngomong kasar ke lo.”
Lily yang menggeleng sekarang, “Nggak, gue yang harus berterima kasih sama lo karena uda nyadarin gue.” Tiba-tiba Lily duduk tegap. Dia menatapku tajam dan menuntut.
“Apa?” tanyaku agak risih.
“Nggak. Gue mau ngasih tahu lo siapa si ‘dia’. Lo mau ikut nggak?” tawarnya.
Aku terkejut, “Lho kenapa? Gue nggak maksa lo. Gue cuma pingin lo sadar aja. “ elakku. Aku memang hanya ingin membuatnya lebih jujur, bukan sangat jujur seperti ini.
“Nggak apa, lo orang yang pertama kali negur gue. Ayo!” Lily menarik tanganku untuk berdiri. Akhirnya, dengan sedikit terpaksa, aku mengikutinya ke rumah itu lagi.
“Lho? Ada tamu?” ibu Lily kelihatan kaget ketika masuk sehabis pulang berbelanja. “Temannya Lily? Atau malah pacarnya?” goda ibu Lily iseng.
“Ah bukan, Tante. Saya cuma mampir, kebetulan lewat.” kataku berbasa-basi.
Ibu Lily tersenyum, “Saya masuk dulu ya.” Aku mengangguk. Sepuluh menit kemudian, Lily mendorong keluar seseorang diatas kursi roda. Seorang cowok yang masih cukup muda. Tubuhnya kurus dan jangkung. Rambutnya hitam dan lurus. Matanya sayu, tapi tersenyum padaku.
“Tito? Ini Daisy. Kakak gue.” Jelas Lily pelan. Aku terpaku dalam diam. Senyum Daisy memaku tubuhku di sofa. “Hai. Gue Daisy. Lo Tito ya?” sapa cowok itu.
“Jadi lo si ‘dia’?” kataku pelan.
Daisy memandang Lily bingung. Lily memasang wajah ‘ini hanya salah paham’. “Ah, gue ambilin minum dulu ya. Kalian ngobrol dulu.” Lily masuk ke dalam lagi, meninggalkan aku dan Daisy di teras.
“Jadi?” tanya Daisy padaku.
Aku menoleh padanya,“Apa?”
“Lo pacarnya Lily?” Daisy memandangku dari atas sampai bawah.
“Bukan kok. Kok bisa berkesimpulan gitu?” tanyaku lagi. Sedikit kesal juga.
“Nggak. Lily kemarin cerita kalau temannya sudah tahu tentangku. Ya lo itu mungkin, katanya cowok yang beli bunga daisy.” Katanya sambil menunjuk diri sendiri.
“Loh? Dia takut gue tahu tentang lo pas beli bunga itu? Kenapa? Masa dia malu karena lo?” tanyaku kaget. Sesaat kemudian aku menyesali perkataanku. “Maaf.”
“Tentu aja nggak. Lo pikir adik gue kayak apa!” katanya sambil tertawa. “Dia cuma nggak pingin gue diganggu sama temen-temennya. Aneh kan?” Daisy menatap sayu padaku.
“Ehem, gue nggak maksud nyinggung... tapi kenapa nama lo Daisy? Itu kan... kayak nama... ehem sorry... cewek...?” tanyaku pelan. Daisy tertawa mendengarnya.
“Dulu gue juga sering sebel masalah itu. Tapi gue jadi sayang banget sama nama itu karena ayah yang ngasih nama itu.” Daisy tersenyum ketika melihat tanda tanya di wajahku. “Ayah... meninggal sehari setelah Lily lahir. Kecelakaan. Dia pesen sama ibu kalau nanti sudah berumur 6 tahun, gue harus tahu nama asli gue. Dari gue bayi, nama yang ibu panggil ke gue ya Kei. Tapi pas ulang tahun gue yang keenam, gue tahu nama gue sebenernya Daisy. Yah, ayah suka banget sama bunga sih. Dan temen-temen gue sering ngejek gue karena nama gue itu. Gue sempet benci sama ayah cuma gara-gara itu lho.” Daisy menarik napas panjang.
“Tapi sejak gue kecelakaan pas SMA dan lumpuh, gue mulai mensyukuri nama pemberian ayah. Soalnya gue masih diberi kesempatan hidup dan gue ingin buat ayah bahagia. Toh apa jeleknya sih nama Daisy. Bagus juga kan?” Daisy mengakhiri kisahnya dan memandang kakinya yang sudah tak bisa bergerak lagi.
Aku memperhatikannya. “Tapi Lo masih diberi kesempatan hidup buat ngejagain nyokap lo sama Lily kan?” hiburku. Daisy tersenyum padaku.
“Gue harap begitu.” Katanya lirih. Darahku berdesir.
“Lo nggak punya penyakit lain kan?” tanyaku takut.
“Sayangnya, gue punya leukimia yang cukup parah. Gue nggak tahu bakal hidup sampe kapan.” Jelasnya lirih. Aku tak kuasa menahan keterkejutanku.
“Lily tahu?” tanyaku lagi. “Ya, dan dia nggak mau gue sedih jadi dia selalu cerita apa aja yang dia lakukan setiap harinya dan juga selalu bawain gue bunga dari ‘Blossom’.” Jelas Daisy. Aku tak mampu berkata-kata lagi sampai Lily datang. Setelah itu aku lebih banyak diam dan mendengarkan Lily bercerita pada Daisy.
Semenjak hari itu aku selalu rutin mengunjungi Daisy pada akhir pekan dan terkadang saat suasana hatiku lagi suntuk. Daisy selalu bisa membuatku tertawa lepas karena dia juga cowok, jadi apa yang kita rasakan hampir sama. Malah kami pernah sekali pergi ke pantai bersama ibu Lily juga. Lily juga senang karena kakaknya memiliki teman baru.
♣♣♣♣
Sudah seminggu ini aku sibuk dengan tugas-tugasku. Maklum, sudah kelas 3 jadi harus rajin. Sudah satu bulan aku tak mampir ke tempat Daisy dan bertemu Lily. Seakan hubungan kami terputus untuk sementara. Sabtu itu, aku berniat mampir. Saat istirahat siang, aku mendatangi kelas Lily untuk membuat janji. Tapi Lily nggak masuk. Sudah seminggu rupanya. Kok aku tidak dengar kabar apa-apa ya?
“Kenapa dia? Sakit?” tanyaku pada teman sebangkunya.
Dia menggeleng, “Nggak. Kakaknya meninggal.” katanya pelan.
Jantungku berdetak keras sekali tanpa aturan. Mataku melotot pada teman-teman Lily. “Becanda ah?” kataku berusaha tertawa. Getir.
Mereka menggeleng dan menatap sedih. “Kami ikut berduka cita. Dia meninggal kemarin siang.” Darahku berdesir. Kemarin lusa, Daisy mengirim email padaku. Dia mohon padaku agar aku bisa menjadi tempat Lily bersandar selain padanya. Aku membalasnya dengan konyol. Tak kukira itu pesan terakhir dari Daisy.
Tanpa memikirkan akan diskors karena membolos aku segera berlari menuju lapangan parkir. Mengambil motorku dan tak menghiraukan satpam meneriakiku. Aku ingin segera sampai ke rumah Daisy. Selain khawatir pada Lily, aku juga sangat kehilangan Daisy.
Rumah sederhana itu masih lumayan ramai oleh pelayat berbaju hitam-hitam. Aku segera menerobos ke dalam kamar tempat biasa Daisy dan Lily menungguku. Kudapati Ibu Lily sedang menerima pelayat, aku hanya mengangguk sopan padanya. Dan dibalas anggukan kecil, sedih. Wajahnya pucat dan sayu sekali. Matanya juga membengkak.
“Lily!” teriakku sambil mendobrak pintu. Lily sedang bersimpuh di depan dvd player. Hendak memasukkan sebuah CD. Dia menatapku dan menyuruhku duduk. Wajahnya tak jauh beda dengan ibunya. Berantakan.
“Lily, gue...” kata-kataku terpotong ketika di televisi muncul wajah Daisy. Ada waktunya di sudut layar, di malam terakhir Daisy.
‘Hai. Lily-ku dan Tito. Maaf nih resolusinya jelek. Adanya cuma ini sih. Gue nggak mau pesimis ya. Tapi gue ngerasa ajal gue udah deket. Jaga-jaga aja. Nih pesen terakhir gue. Kalo kalian udah liat berarti gue udah ke langit. Buat Lily, tolong jagain ibu ya? Kakak nggak bisa bantuin Lily lagi. Tapi kakak masih bisa dengerin curhat Lily, cuma nggak bisa bales aja. Makasih atas segalanya selama ini, Lily. Kakak bangga punya adik kayak kamu. Love you...’
Hening, Daisy minum seteguk air. Kulirik Lily. Dia diam mematung, kosong.
‘...Sorry. Haus. Buat Tito nih, sorry gue nggak becanda pas kirim email ke lo. Gue udah nganggep lo adik gue juga. Lo asyik orangnya. Gue minta tolong bantu Lily kalau dia susah. Tolong jaga dia. Karena gue udah nggak bisa bantuin dia lagi... Oh ya, lo kan juga punya kakak tuh... Tolong sayangi dia. Kita nggak bakal bisa tahu sesuatu berharga sebelum kehilangannya. Ya udah ya, capek... Bye... I love you two so much....!!’ BIIIP. Mati.
 Air mataku sudah tidak bisa terbendung. Keluar begitu saja. Walaupun pertemuan kami singkat tapi begitu membekasnya sampai aku benar-benar kehilangan. Aku berlutut di dekat Lily. Lily menangis dalam diam. Tak berkata-kata. Hanya air mata. Aku memeluknya dan dia menangis masih tanpa suara. Tubuhnya bergetar hebat karena menahan suara tangis.
“Lily, gue janji sama lo dan Daisy! Gue bakal ngejaga lo sama nyokap lo. Gue janji. Lo juga jangan terpuruk kayak gini. Demi Daisy juga, Ly!!” kataku dengan tegas walau berurai air mata.
Lily menatapku, “Tito... tolongin gue...” Lily nangis lagi.
“Ya, kita harus sama-sama bangkit.” Kataku pelan. “Demi Daisy.”
Lily mengusap air matanya dan mengangguk, “Ya, demi kakak.” Katanya lirih, dikalahkan suara gemerisik video yang sudah habis waktunya. “Kakak... masih bisa bersikap konyol sebelum meninggal... dasar!” Lily tertawa.
 Setelah itu, kami rutin mengunjungi makam Daisy dengan membawa bunga Lily dan Daisy. Dan aku baru tahu dari Lily tentang kecelakaan Daisy. Saat itu Daisy menaiki motornya sepulang sekolah setelah bertengkar hebat dengan temannya yang mengejek namanya. Dia ditabrak sebuah mobil dan sempat koma 1 bulan. Daisy bercerita pada Lily kalau dia bertemu ayahnya saat koma. Ayahnya meminta Daisy untuk membencinya tapi melarangnya untuk membenci namanya. Daisy bilang itu karena suatu alasan yang hanya diketahui ayah Daisy. Daisy khilaf dan mau menerima nama itu dengan bangga.
Semenjak itu, Lily sudah mulai bisa menghilangkan senyum palsu itu. Dia kembali ceria. Dan aku berjanji pada diriku akan menyayangi seluruh keluargaku walau mereka jauh dariku. Berkat Daisy.
Semua ini hanya bisa kudapat setelah aku bertemu Daisy. Terima kasih Daisy, aku selalu mendoakanmu. Berbahagialah dan lihatlah kami dari sana.
♣♣♣♣